6 Pertanyaan Penentu Kebahagiaan Seseorang Seumur Hidup

Bahagia dan sengsara adalah pilihan bagi semua manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Akan tetapi sayangnya, banyak dari kita yang belum mengetahuinya. Bahagia yang sesungguhnya adalah suatu kebahagiaan yang dirasakan di muka bumi ini dan setelah kematian tiba. Kebanyakan dari kita beranggapan bahwa kebagaiaan hanya dialami di dunia ini saja. Padahal tidaklah demikian adanya. Sebagai indikator apakah kita sudah mengetahuinya dengan benar, dapat Anda gunakan 6 pertanyaan penentu kebahagiaan seseorang seumur hidup sebagai berikut:

  1. Apa yang paling tajam di dunia ini?

Benda yang paling tajam di dunia ini bukanlah semua senjata tajam seperti pisau, pedang, keris, anak panah dan semua jenis senjata api. Akan tetapi benda yanag paling tajam di dunia ini adalah lidah. Meskipun lidah berbentuk lentur (karena tidak bertulang) namun dengan lidah seseorang akan mampu untuk menyakiti dan melukai hati orang lain. Apabila hati sudah terluka oleh lidah yang diumbar dengan perkataan yang tidak terkontrol maka bekas luka dalam hati akan membekas dan sulit untuk dilupakan. Maka dari itulah kita harus pintar-pintar dalam menyimpan lidah kita agar tidak melukai orang lain. Ingat, bahwa ketajaman lidah lebih tajam dari pada senjata tajam apapun.

  1. Apa yang paling berat di dunia ini?

Benda yang paling berat di dunia ini bukanlah batu, besi dan baja. Akan tetapi yang paling berat di dunia ini adalah janji kita. Janji kepada siapa saja yang pernah kita janjikan pada orang lain. Baik itu kepada orang tua, orang sebaya dengan kita, bahkan pada anak kecil sekalipun.

Janji yang kita lontarkan pada orang lain memang sangat mudah dilakukan namun yang berat adalah untuk menetapi janji tersebut. Modal yang diperlukan untuk memberikan jaanji adalah hanya ucapan tanpa ada pengorbanan. Lain halnya dengan untuk menetapinya yang sangat dibutuhkan adanya pengorbanan dan perjuangan untuk dapat mewujudkannya.

Oleh karena itulah apabila mau memberikan janji pikirkanlah terlebih dahulu dengan masak-masak bagaimana kita untuk dapat merealisasikan janji tersebut.

  1. Apa yang paling ringan di dunia ini?

Secara fisik benda yang paling ringan di dunia ini adalah termasuk kapas, partikel dan debu. Akan tetapi menurut pandangan non-fisik bahwa yang paling ringan adalah melupakan Tuhan. Tuhan seringkali kita lupakan karena kesibukan urusan duniawi seperti kesibukan mencari nafkah dan kesenangan dunia. Banyak tertawa secara berlebih-lebihan juga dapat menjadikan lupa akan Tuhan kita.

Seperti yang telah banyak kita saksikan sekarang ini bahwa banyak sekali kasus hanya karena urusan harta, tahta dan wanita banyak yang rela melupakan Tuhannya. Meraka lebih mementing keperluan pribadi dan keluarganya dari pada urusan dengan Tuhannya.

  1. Apa yang paling jauh di dunia ini?

Benda yang paling jauh dari dunia ini sebenarnya bukanlah awan, antariksa, galaxy dan matahari. Namun yang sebenarnya paling jauh di dunia ini adalah masa lalu kita. Ya, siapapun orangnya akan semakin dijauhi oleh masa lalu kita. Dengan bertambahnya usia kita maka akan semakin jauh masa lalu untuk meninggalkan kita. Oleh karena itulah dalam berbuat sesuatu pikirkanlah dengan lebih masak-masak agar kita tidak menyesal dengan apa yang sudah menjadi masa lalu kita. Ingat, masa lalu kita tidak dapat direvisi dan semua orang yang menyaksikan akan membenarkan apa yang sudah kita lakukan pada waktu itu.

Masa lalu merupakan track record kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini tanpa ada rekayasa. Apa yang menjadi masa lalu kita dapat menunjukkan eksistensi kita selama hidup di dunia. Masa lalu kita (baik atau buruk) tanpaa sadar akan selalu dikenang oleh orang-orang disekitar kita. Benar apa yang sudah menjadi peribahasa berikut:

Gajah mati meninggaalkan gading

Harimau mati meninggalkan belang

Manusia mati meninggalkan nama

Bagaimananpun juga nama kita akan menunjukkan perilaku kita sewaktu kita hidup di dunia tanpa dapat direkayasa. Maka dari itulah seharusnya kita harus berhati-hati sebelum bertindak agar masa lalu kita tetap terjaga kebaikannya.

  1. Apa yang paling besar di dunia ini?

Sesuatu yang paling besar di dunia ini tentu bukanlah sebuah gunung, bumi, planet dan matahari. Namun sesuatu yanag paling besar secara hakiki adalah nafsu kita sendiri. Nafsu merupakan sumber kekuatan yang luar biasa dalam melakukan berbagai hal, baik itu perbuatan terpuji maupun tercela.

Banyak sekali angkara murka di muka bumi ini karena ulah nafsu manusia yang diumbar tanpa ada kendali. Di sana-sini banyak terjadi pembunuhan, pemerasan, pemerkosaan, penindasan dan pemalsuan itu semua karena nafsu yang tidak terkontrol. Apabila sudah begini adakah bedanya antara manusia dan hewan?

Pada dasarnya yang membedakan antara manusia dan hewan adalah bagaimana cara pengontrolan nafsu pada dirinya. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Tuhan di alam ini. Manusia diberikan pikiran dan hati yang dapat dipergunakan untuk mengontrol nafsu yang ada dalam dirinya. Apabila manusia sudah lepas kontrol dalam pengendalian nafsunya maka sudah tidak ada bedanya dengan hewan apapun.

  1. Apa yang paling dekat di dunia ini.

Seseorang yang paling dekat dengan kita sebenarnya bukalah istri, anak, teman dekat ataupun orang tua. Akan tetapi yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Kematian seseorang tidak ada yang mengetahui kecuali Tuhan itu sendiri. Dan kematian itu datangnya sewaktu-waktu, tidak mengenal usia dan status social.

Kematian dapat diibaratkan sebagai buah kelapa. Buah kelapa yang jatuh dari tangkainya tidak harus buah kelapa yang sudah tua saja, akan tetapi ada juga yang masih muda atau baru berupa pentil sekalipun. Sehingga sebenarnya siapa saja yang hidup di dunia ini harus menyiapkan diri untuk mati sewaktu-waktu. Apa yang akan dibawa mati inilah yang perlu dipikirkan.

Dengan diketahuinya 6 hal penting ini semoga dapat memberikan arahan dan motivasi bagi kita supaya mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Amiin..*

(/pic:huffingtonpost.com)

Written by Amin

Saya seorang Dosen, Konsultan, Peneliti dan Asesor. Selain sebagai Ketua Editor Jurnal Ilmiah, saya juga bergabung di asosiasi profesi: PII, ADGVI dan APTI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *