Inilah Hikmah dari Film Nyai Ahmad Dahlan

Film Nyai Ahmad Dahlan yang disutradarai oleh Olla Atta Adonara mendapat respon positif di masyarakat, terutama warga Muhammadiyah. Film yang ditayangkan serentak di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 24 Agustus yang lalu itu tidak sekedar menyajikan hiburan belaka namun memiliki nilai-nilai luhur yang luar biasa.

Film perjuangan yang diskenarioi oleh seorang penulis bernama Dyah Kalsitorini ini mengisahkan tentang Siti Walidah (:istri Ahmad Dahlan) yang diperankan oleh Tika Bravani (istri pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan) yang tak kenal lelah dalam perjuangan emansipasi wanita.

Seperti yang dikisahkan di film itu bahwa istri Ahmad Dahlan selain sukses dalam memperjuangkan kaum wanita, beliau juga sukses dalam membina rumah tangganya. Hal ini sangat terasa di dalam adegan-adegan film yang ditayangkan.

NILAI-NILAI LUHUR

Sebatas apa yang dapat saya tangkap ketika tonton di Studio 21 Semarang, bahwa Film Nyai Ahmad Dahlan menyimpan beberapa pesan moral dan spiritual yang sangat tinggi. Pesan yang sangat dibutuhkan bagi kaum muda terutama generasi wanita dalam membina keluarga, bergaul di masyarakat, bangsa dan negara.

Beberapa pesan moral dan spiritual yang tersirat dari adegan film itu adalah:Wanita itu harus pintar, memiliki ide-ide kreatif dan inovatif; Wanita itu harus bisa mendidik anak-anaknya hingga sukses; Wanita memiliki kewajiban untuk membantu perjuangan suami dengan iklas; Wanita harus mendukung sepenuhnya tugas suami dan Wanita itu harus bisa menjaga hubungan baik dengan sesama.

Kalau saya sendiri, setelah menyaksikan Film Nyai Ahmad Dahlan yang terbersit dibenakku adalah menguatkan apa yang sudah menjadi moto hidup saya yaitu:

“Hidup sekali harus dapat menciptakan hasil karya yang dapat dimanfaatkan oleh sesama”.

SEJARAH

Film Nyai Ahmad Dahlan merupakan film yang memiliki nilai sejarah penting bagi generasi muda terutama perempuan untuk menyemangati dalam perjuangan. Film ini dapat dijadikan sebagai contoh dan acuan Anda dalam membina keluarga, bagaimana cara berinteraksi dengan tetangga dan sebagai wujud pengorbanan pada bangsa dan negara.

APRESIASI PENONTON

Hadirnya Film Nyai Ahmad Dahlan mendapatkan tanggapan yang positif di masyarakat terutama warga Muhammadiyah. Seperti yang saya amati bersama rekan-rekan se-kantor ketika antri membeli tiket masuk di Bioskop Studio 21 Semarang adalah padatnya para penonton yang sedang menunggu pintu bioskop dibuka.

Amin dan Rekan-Rekan

Cinema 21

Penonton Bioskop di Cenema XXI

Waktu itu saya bersama rekan-rekan sekantor mendapatkan jatah tiket untuk nobar di bioskop. Terima kasih kepada pimpinan saya yang telah memberikan fasilitas ini.

Tiket Bioskop Gratis

Demikian halnya setelah saya keluar dari pintu bioskop, padatnya para calon penonton Film Nyai Ahmad Dahlan yang baru datang cukup menghambat langkah saya untuk keluar dari bioskop dan menuju ke “Bakso Lapangan” yang berada di sebelah kanan bioskop untuk sekedar menghangatkan badan bersama rekan-rekan se-kantor.

Bakso Lapangan

KATA MUTIARA

Beberapa kata mutiara yang terlintas dalam percakapan di Film Nyai Ahmad Dahlan adalah:

Kain kaffan itu tidak ada sakunya, kita mati tidak bawa apa-apa. Jadi, janganlah takut miskin.

Berfikirlah bersama dan bukan berfikir sama, meski berbeda pendapat.

Jangan sampai urusan dapur menjadi penghalang dalam berdakwah.

Bajumu jangan sampai melupakan tujuan utamamu.

CUPLIKAN CERITA

Pada zaman kecil Siti Walidah, wanita tidak dapat mengenyam pendidikan seluas laki-laki. Wanita harus memiliki pendidikan yang lebih rendah dari pada laki-laki agar tidak berani terhadap laki-laki. Berawal dari itulah, perempuan yang lahir di Kampung Kauman pada tahun 1872 itu berusaha untuk memperjuangkan derajat kaum perempuan supaya sejajar dengan laki-laki.

Setelah menikah dengan Ahmad Dahlan, Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) ikut berjuang membantu suaminya dalam pergerakan Muhammadiyah. Ahmad Dahlan adalah sosok laki-laki yang memiliki pemikiran maju dan terkemuda di waktu itu. Beliau merelakan istrinya ikut dalam perjuangan membangun bangsa.

Bersama dengan suaminya, Nyai Ahmad Dahlan mendapatkan pengalaman yang semakin luas dengan bergaul sesama anggota Muhammadiyah dan tokoh-tokoh pemimpin bangsa yang lain, seperti: Jenderal Sudirman, Bung Karno, Bung Tomo, KH. Masyur, KH. Fahruddin, dan lainnya.

Nyai Ahmad Dahlan giat sekali dalam memberikan ceramah-ceramah keagamaan di masyarakat. Hingga akhirnya Siti Walidah mendirikan sebuah organisasi perempuan yang diberi nama Sopo Trisno. Seiring dengan berjalannya waktu organisasi ini berubah nama menjadi “Aisyiyah” atas saran dari KH. Fahruddin. Hingga akhirnya pada Tahun 1926 Nyai Ahmad Dahlan berhasil memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya.

Organisasi perempuan Aisyiyah ini dibuat guna memperjuangkan kaum perempuan agar dapat menjalankan agama islam dengan benar dan aman. Pada waktu itu masyarakat pribumi mendapatkan tekanan dari penjajah Jepang untuk menyembah matahari sebagai Tuhannya.

Meskipun dalam tekanan penjajah, kehidupan keluarga Nyai Ahmad Dahlan bersama Nyai Ahmad Dahlan tetap harmonis dan bahagia. Pastilah keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat terwujud jika ada rasa cinta yang tulus pada Yang Kuasa.* (/pic: pwmu.co)

Written by Amin

Saya seorang Dosen, Konsultan, Peneliti dan Asesor. Selain sebagai Ketua Editor Jurnal Ilmiah, saya juga bergabung di asosiasi profesi: PII, ADGVI dan APTI.

This article has 1 comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *